Kamis, 21 Juni 2012

KENYAMANAN DIRI (ATAU KEEGOSIAN DIRI)

Kita selalu bisa tahu, apakah seseorang yang berada di dekat kita merasa nyaman dengan keberadaan kita atau justru menganggap kita sebagai gangguan. Demikian pula orang yang kita ajak bicara. Mereka memberi isyarat dengan tanda dengan bahasa tubuhnya untuk mengungkap ketidaknyamanan itu. Kita selalu bisa menangkap gejala-gejalanya. Tetapi bagaimana dengan peran sebaliknya? Apakah kita juga pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang di dekat kita, atau dalam kehidupan ini? Jawabnya tentu pernah. Pertanyaan selanjutnya adalah; dari mana perasaan tak nyaman yang kita alami ketika berhadapan dengan orang? Pada umumya kita bisa menjawab dalam dua sisi; bisa dari mereka, dan bisa juga dari diri kita sendiri. Kebanyakan orang lebih merasakan yang kedua (dari diri mereka sendiri), karena ada ketidaknyamanan yang zhahir sifatnya. Tapi ada yang jauh lebih menghalangi kedekatan dibanding ketidaknyamanan zhahir. Ialah ketidaknyamanan batin terhadap diri kita sendiri. Kita merasa kotor, kerdil dan tak pantas berhadapan dengan saudara seiman. Kita merasa terputus dari ikatan cinta dengan mereka akibat perbuatan yang kita lakukan. Bukan hanya kita yang merasakannya sendiri dan makin lama orang-orang yang berada di sekitar kita juga akan merasakannya. Memahami keadaan-keadaan itu, kita menemukan sebuah kaidah penting. Bahwa merasa nyaman dengan diri kita sendiri, akan membantu orang lain untuk bisa merasa nyaman atas keberadaan kita di dekatnya. Tentu saja dalam hal yang zhahir, kita memang perlu untuk memperbaiki penampilan kita sehingga kita percaya diri dan merasa nyaman berhadapan dengan sesama. Dalam hal batin, hati pun harus kita percantik agar diri kita merasa nyaman saat berhadapan dengan saudara-saudara tercinta. Sesudah itu, sahabati nurani kita dengan nasehat tulus dari saudara-saudara yang mencintai kita karena Allah. Maka rasa nyaman pada diri pun hadir, hingga mereka juga merasa nyaman dengan keberadaaan kita. Rasulullah bersabda, “Orang mukmin itu mudah akrab dan gampang didekati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tak mudah dekat dan sulit diakrabi.” Kita belajar untuk memiliki kehangatan semacam ini: mudah didekati dan dikaribi. Jadikan orang-orang selingkar kita merasa bahwa kita benar-benar memiliki hati untuk mereka. Itulah kebaikan bagaikan bahasa yang bisa dikatakan oleh si bisu, terlihat oleh si buta, serta didengar dan dimengerti oleh si tuli Orang yang gampang didekati biasanya adalah seseorang yang ksatria. Dia sadar, bahwa orang yang selalu berusaha mempertahankan citra bahwa dirinya sempurna adalah orang yang menyebalkan. Maka dia adalah orang yang mampu mengakui kelemahan diri. Dengan kemampuannya mengakui kelemahan diri, dia juga menjadi orang yang sigap dalam meminta maaf sekaligus pengasih. Dia pengampun. Dia memiliki kemampuan untuk memaafkan orang lain. Orang yang mudah diakrabi adalah mereka yang rendah hati dan mengetahui hakikat dari sebuah hubungan. Merasa diri paling baik dan memilih-milih teman atau hanya bergaul dengan orang-orang tertentu saja adalah tanah paling gersang dan lahan paling tandus bagi pohon iman. Seiring itu benih persaudaraan hampir mustahil bisa tumbuh di sana. Sikap itu adalah PENGHALANG TERBESAR dalam menjalani hubungan baik dengan sesama. Dan itu bisa disamakan dengan sifat sombong. Dan tahukah engkau makhluk apa yang paling sombong yang akhirnya ia hanya mendapat laknat dari Allah? Ya, “Iblis’ jawabnya. Apakah kita ingin disamakan dengan iblis dengan meniru kesombongannya, yang hanya akan membawa kita terjerat api neraka. Sifat sombong itu adalah hal yang paling dibenci di langit maupun di bumi. Jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita, tidakkah kita curiga bahwa “DIRI KITA INILAH MASALAHNYA?” Merasa benar, merasa egois, merasa tinggi, merasa angkuh, merasa lebih dan merasa suci adalah penyakit yang membuat jijik malaikat maupun manusia di bumi ini. Sombong adalah ibu dari segala kejahatan dan kehancuran. Derita yang tak terperikan di sepanjang sejarah, diakibatkan oleh paduan antara keangkuhan, kesombongan, dan egoisme diri. Jika anda tidak suka bergaul dengan orang lain, karena tabiat atau kebiasaannya atau khawatir akan menjerumuskan anda, maka bukankah lebih baik bagi kita merangkul mereka dan membawa mereka kepada jalan yang benar. Inilah yang menjadi masalahnya. Yaitu kadar kualitas iman kita. Kita merangkul dan mengajak mereka pada jalan yang lebih baik, dan bukannya malah kita yang mengikuti mereka. Inilah ujian iman. Atau kita mencoba untuk mengurangi kadar kedekatan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Dengan berbagai prasangka dan argumen yang hanya terlahir dari paradigma pikiran kita yang sempit yang menurut kita baik padahal sebaliknya. padahal belum tentu bagi orang lain. Cobalah berpikir lebih luas dan terbuka. Ingatlah prasangka kita yang seperti itu merupakan celah bagi setan untuk masuk dalam jiwa. Memberi rasa curiga dan ragu pada sesama. Sehingga tidak ada saling percaya. Dan inilah awal yang buruk untuk kebersatuan umat dan awal yang baik untuk penghancuran umat. Mereka menjadi “boneka” bagi setan untuk mengendalikan diri kita menuju tujuannya, yaitu membawa manusia kepada jalan neraka. Atau kita mencoba untuk menjauhi seseorang atau segolongan kelompok hanya karena kita mengikuti egoisme dalam diri. Hal ini masih dipengaruhi dengan penilaian pemikiran kita yang sempit. Kita merasa lebih baik dengan mereka, merasa tak cocok atau merasa mereka tak pantas bergaul dengan kita. Lalu bagaimana jika seandainya niat mereka adalah untuk memperbaiki diri? Atau keberadaan kita di tengah mereka dapat membawa mereka pada kebaikan. Sikap kita pada bagian yang ini hanya akan mendapat peringatan dari Allah. Sama dengan apa yang pernah Allah peringatkan kepada Nabi Muhammad ketika seorang buta mendatanginya untuk memperbaiki diri meminta ajaran-ajaran Islam pada beliau, padahal ketika itu Nabi Muhammad sedang menghadapi para pembesar kaum Quraisy dengan harapan agar mereka masuk Islam. Untuk merenungkannya bukalah Al-Qur’an surat An-Naba ayat 1-16. Atau ini ‘yang paling parah’ yaitu memutuskan tali silaturahmi antar sesama Umat Islam. Bahaya dari perbuatan ini tentu saja sama dengan konsekuensi kita untuk menghancurkan kebersatuan umat. Biasanya hal ini terjadi pada mereka yang sudah berada pada klimaks kemarahan dan kekecewaannya. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Masalah yang sebenarnya adalah kondisi orang yang sedang marah dan kecewa itu sudah sepenuhnya dirasuki oleh setan. Juga perlu kita ingat bahwa SALAH SATU DOSA YANG PALING BESAR ADALAH MEMUTUS TALI SILATURAHMI DENGAN SESAMA MUSLIM. Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya agar saling menjaga persaudaraan kepada sesama. Bahkan diriwayatkan dalam hadis, beliau memberi pesan. “Jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati. Tetapi jadilah hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. Bukhari). Juga hadis yang berbunyi “Setiap mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya.” Atau “Antara satu mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan satu bagian tubuh, apabila satu bagian merasa sakit, maka akan merasa sakit tubuh yang lain.” Dari hadis diatas dapat disimpulkan betapa Rasulullah sangat menganjurkan kita untuk hidup sebagai saudara, untuk peduli antara satu mukmin dengan mukmin lainnya. Untuk dapat saling mengerti dari setiap kelebihan dan kekurangan antara saudaranya. Kalau kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad pasti akan melakukan semua sunnahnya. Karena Nabi sangat mencinta dan merindukan golongan yang menjalankan sunnahnya, Mudah-mudahan sajak di bawah ini dapat merenungkan apakah sikap-sikap tersebut ada dalam diri kita. Yang semoga ke depannya membawa kita menuju pada pribadi yang mau bergaul dengan siapa saja karena semuanya adalah ciptaan Allah. “Jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak Jika kau merasa suci, periksa jiwamu Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu Mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya” Naudzubillahimindzalik Akhirnya mereka yang nyaman dikaribi adalah orang-orang yang tampil apa adanya. Mereka tak menyembunyikan sesuatu. Mereka bisa diduga. Mereka gampang didekati sebab orang tahu tanggapan apa yang akan didapat ketika sesuatu disampaikan. Mereka menyeimbangkan prinsip ini dengan kepekaannya kepada perasaan mereka. Mereka tumbuh menjadi orang jujur tanpa menyakiti. Mereka bisa bicara terbuka tanpa melukai. Mereka menambah intensitas kebersamaan dengan sesama. Mereka bukannya menjauhi tetapi malah mendatangi dan menerima sesamanya. Mereka tidak akan memutus tali silaturahmi. Dan ini banyak terjadi pada kita. (Salim A. Fillah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar