Sabtu, 16 Maret 2013
Obat Penyakit Hati Sombong, Iri, dan Dengki
Hati secara harfiah (bahasa Arab Qalbu) adalah bagian yang sangat penting daripada manusia. Jika hati kita baik, maka baik pula seluruh amal kita. dalam hadits yang sakhih :
Rasulullah saw. bersabda, “….Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari)
Sebaliknya, orang yang dalam hatinya ada penyakit, sulit menerima kebenaran dan akan mati dalam keadaan kafir. dalam Al Qur’an Juga di Sebutkan :
“Orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya yang telah ada dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [At Taubah : 125]
Oleh karena itu penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik, karena bisa mengakibatkan kesengsaraan di neraka yang abadi. Kita perlu mengenal beberapa penyakit hati yang berbahaya serta bagaimana cara menyembuhkannya.
Sombong
Sering orang karena jabatan, kekayaan, atau pun kepintaran akhirnya menjadi sombong dan menganggap rendah orang lain. Bahkan Fir’aun yang takabbur sampai-sampai menganggap rendah Allah dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kenyataannya Fir’aun adalah manusia yang akhirnya bisa mati karena tenggelam di laut.
Allah melarang kita untuk menjadi sombong:
“Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’ : 37]
“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman : 18]
Allah menyediakan neraka jahannam bagi orang yang sombong:
“Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .” [Al Mu’min : 76]
Kita tidak boleh sombong karena saat kita lahir kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Kita tidak punya kekayaan apa-apa. Bahkan pakaian pun tidak. Kecerdasan pun kita tidak punya. Namun karena kasih-sayang orang tua-lah kita akhirnya jadi dewasa.
Begitu pula saat kita mati, segala jabatan dan kekayaan kita lepas dari kita. Kita dikubur dalam lubang yang sempit dengan pakaian seadanya yang nanti akan lapuk dimakan zaman.
Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ “Uluumuddiin menyatakan bahwa manusia janganlah sombong karena sesungguhnya manusia diciptakan dari air mani yang hina dan dari tempat yang sama dengan tempat keluarnya kotoran.
Bukankah Allah mengatakan pada kita bahwa kita diciptakan dari air mani yang hina:
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” [Al Mursalaat : 20]
Saat hidup pun kita membawa beberapa kilogram kotoran di badan kita. Jadi bagaimana mungkin kita masih bersikap sombong?
‘Ujub (Kagum akan diri sendiri)
Ini mirip dengan sombong. Kita merasa bangga atau kagum akan diri kita sendiri. Padahal seharusnya kita tahu bahwa semua nikmat yang kita dapat itu berasal dari Allah.
Jika kita mendapat keberhasilan atau pujian dari orang, janganlah ‘ujub. Sebaliknya ucapkan “Alhamdulillah” karena segala puji itu hanya untuk Allah.
Iri dan Dengki
Allah melarang kita iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32]
Iri hanya boleh dalam 2 hal. Yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu.
Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari) [HR Bukhari]
Jika kita mengagumi milik orang lain, agar terhindar dari iri hendaknya mendoakan agar yang bersangkutan dilimpahi berkah.
Apabila seorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya (dikaguminya) maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah. Sesungguhnya pengaruh iri adalah benar. (HR. Abu Ya’la)
Dengki lebih parah dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki:
“Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” [Al Falaq 5]
Kedengkian bisa menghancurkan pahala-pahala kita.
Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu. (HR. Abu Dawud)
Kamis, 21 Juni 2012
KENYAMANAN DIRI (ATAU KEEGOSIAN DIRI)
Kita selalu bisa tahu, apakah seseorang yang berada di dekat kita merasa nyaman dengan keberadaan kita atau justru menganggap kita sebagai gangguan. Demikian pula orang yang kita ajak bicara. Mereka memberi isyarat dengan tanda dengan bahasa tubuhnya untuk mengungkap ketidaknyamanan itu. Kita selalu bisa menangkap gejala-gejalanya.
Tetapi bagaimana dengan peran sebaliknya? Apakah kita juga pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang di dekat kita, atau dalam kehidupan ini? Jawabnya tentu pernah. Pertanyaan selanjutnya adalah; dari mana perasaan tak nyaman yang kita alami ketika berhadapan dengan orang? Pada umumya kita bisa menjawab dalam dua sisi; bisa dari mereka, dan bisa juga dari diri kita sendiri.
Kebanyakan orang lebih merasakan yang kedua (dari diri mereka sendiri), karena ada ketidaknyamanan yang zhahir sifatnya. Tapi ada yang jauh lebih menghalangi kedekatan dibanding ketidaknyamanan zhahir. Ialah ketidaknyamanan batin terhadap diri kita sendiri. Kita merasa kotor, kerdil dan tak pantas berhadapan dengan saudara seiman. Kita merasa terputus dari ikatan cinta dengan mereka akibat perbuatan yang kita lakukan. Bukan hanya kita yang merasakannya sendiri dan makin lama orang-orang yang berada di sekitar kita juga akan merasakannya.
Memahami keadaan-keadaan itu, kita menemukan sebuah kaidah penting. Bahwa merasa nyaman dengan diri kita sendiri, akan membantu orang lain untuk bisa merasa nyaman atas keberadaan kita di dekatnya. Tentu saja dalam hal yang zhahir, kita memang perlu untuk memperbaiki penampilan kita sehingga kita percaya diri dan merasa nyaman berhadapan dengan sesama. Dalam hal batin, hati pun harus kita percantik agar diri kita merasa nyaman saat berhadapan dengan saudara-saudara tercinta. Sesudah itu, sahabati nurani kita dengan nasehat tulus dari saudara-saudara yang mencintai kita karena Allah. Maka rasa nyaman pada diri pun hadir, hingga mereka juga merasa nyaman dengan keberadaaan kita.
Rasulullah bersabda, “Orang mukmin itu mudah akrab dan gampang didekati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tak mudah dekat dan sulit diakrabi.”
Kita belajar untuk memiliki kehangatan semacam ini: mudah didekati dan dikaribi. Jadikan orang-orang selingkar kita merasa bahwa kita benar-benar memiliki hati untuk mereka. Itulah kebaikan bagaikan bahasa yang bisa dikatakan oleh si bisu, terlihat oleh si buta, serta didengar dan dimengerti oleh si tuli
Orang yang gampang didekati biasanya adalah seseorang yang ksatria. Dia sadar, bahwa orang yang selalu berusaha mempertahankan citra bahwa dirinya sempurna adalah orang yang menyebalkan. Maka dia adalah orang yang mampu mengakui kelemahan diri. Dengan kemampuannya mengakui kelemahan diri, dia juga menjadi orang yang sigap dalam meminta maaf sekaligus pengasih. Dia pengampun. Dia memiliki kemampuan untuk memaafkan orang lain. Orang yang mudah diakrabi adalah mereka yang rendah hati dan mengetahui hakikat dari sebuah hubungan.
Merasa diri paling baik dan memilih-milih teman atau hanya bergaul dengan orang-orang tertentu saja adalah tanah paling gersang dan lahan paling tandus bagi pohon iman. Seiring itu benih persaudaraan hampir mustahil bisa tumbuh di sana. Sikap itu adalah PENGHALANG TERBESAR dalam menjalani hubungan baik dengan sesama. Dan itu bisa disamakan dengan sifat sombong. Dan tahukah engkau makhluk apa yang paling sombong yang akhirnya ia hanya mendapat laknat dari Allah? Ya, “Iblis’ jawabnya. Apakah kita ingin disamakan dengan iblis dengan meniru kesombongannya, yang hanya akan membawa kita terjerat api neraka. Sifat sombong itu adalah hal yang paling dibenci di langit maupun di bumi. Jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita, tidakkah kita curiga bahwa “DIRI KITA INILAH MASALAHNYA?”
Merasa benar, merasa egois, merasa tinggi, merasa angkuh, merasa lebih dan merasa suci adalah penyakit yang membuat jijik malaikat maupun manusia di bumi ini. Sombong adalah ibu dari segala kejahatan dan kehancuran. Derita yang tak terperikan di sepanjang sejarah, diakibatkan oleh paduan antara keangkuhan, kesombongan, dan egoisme diri. Jika anda tidak suka bergaul dengan orang lain, karena tabiat atau kebiasaannya atau khawatir akan menjerumuskan anda, maka bukankah lebih baik bagi kita merangkul mereka dan membawa mereka kepada jalan yang benar. Inilah yang menjadi masalahnya. Yaitu kadar kualitas iman kita. Kita merangkul dan mengajak mereka pada jalan yang lebih baik, dan bukannya malah kita yang mengikuti mereka. Inilah ujian iman.
Atau kita mencoba untuk mengurangi kadar kedekatan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Dengan berbagai prasangka dan argumen yang hanya terlahir dari paradigma pikiran kita yang sempit yang menurut kita baik padahal sebaliknya. padahal belum tentu bagi orang lain. Cobalah berpikir lebih luas dan terbuka. Ingatlah prasangka kita yang seperti itu merupakan celah bagi setan untuk masuk dalam jiwa. Memberi rasa curiga dan ragu pada sesama. Sehingga tidak ada saling percaya. Dan inilah awal yang buruk untuk kebersatuan umat dan awal yang baik untuk penghancuran umat. Mereka menjadi “boneka” bagi setan untuk mengendalikan diri kita menuju tujuannya, yaitu membawa manusia kepada jalan neraka. Atau kita mencoba untuk menjauhi seseorang atau segolongan kelompok hanya karena kita mengikuti egoisme dalam diri. Hal ini masih dipengaruhi dengan penilaian pemikiran kita yang sempit. Kita merasa lebih baik dengan mereka, merasa tak cocok atau merasa mereka tak pantas bergaul dengan kita. Lalu bagaimana jika seandainya niat mereka adalah untuk memperbaiki diri? Atau keberadaan kita di tengah mereka dapat membawa mereka pada kebaikan. Sikap kita pada bagian yang ini hanya akan mendapat peringatan dari Allah. Sama dengan apa yang pernah Allah peringatkan kepada Nabi Muhammad ketika seorang buta mendatanginya untuk memperbaiki diri meminta ajaran-ajaran Islam pada beliau, padahal ketika itu Nabi Muhammad sedang menghadapi para pembesar kaum Quraisy dengan harapan agar mereka masuk Islam. Untuk merenungkannya bukalah Al-Qur’an surat An-Naba ayat 1-16. Atau ini ‘yang paling parah’ yaitu memutuskan tali silaturahmi antar sesama Umat Islam. Bahaya dari perbuatan ini tentu saja sama dengan konsekuensi kita untuk menghancurkan kebersatuan umat. Biasanya hal ini terjadi pada mereka yang sudah berada pada klimaks kemarahan dan kekecewaannya. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Masalah yang sebenarnya adalah kondisi orang yang sedang marah dan kecewa itu sudah sepenuhnya dirasuki oleh setan. Juga perlu kita ingat bahwa SALAH SATU DOSA YANG PALING BESAR ADALAH MEMUTUS TALI SILATURAHMI DENGAN SESAMA MUSLIM. Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya agar saling menjaga persaudaraan kepada sesama. Bahkan diriwayatkan dalam hadis, beliau memberi pesan. “Jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati. Tetapi jadilah hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. Bukhari). Juga hadis yang berbunyi “Setiap mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya.” Atau “Antara satu mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan satu bagian tubuh, apabila satu bagian merasa sakit, maka akan merasa sakit tubuh yang lain.” Dari hadis diatas dapat disimpulkan betapa Rasulullah sangat menganjurkan kita untuk hidup sebagai saudara, untuk peduli antara satu mukmin dengan mukmin lainnya. Untuk dapat saling mengerti dari setiap kelebihan dan kekurangan antara saudaranya. Kalau kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad pasti akan melakukan semua sunnahnya. Karena Nabi sangat mencinta dan merindukan golongan yang menjalankan sunnahnya,
Mudah-mudahan sajak di bawah ini dapat merenungkan apakah sikap-sikap tersebut ada dalam diri kita. Yang semoga ke depannya membawa kita menuju pada pribadi yang mau bergaul dengan siapa saja karena semuanya adalah ciptaan Allah.
“Jika kau merasa besar, periksa hatimu.
Mungkin ia sedang bengkak
Jika kau merasa suci, periksa jiwamu
Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani
Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu
Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan
Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu
Mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya”
Naudzubillahimindzalik
Akhirnya mereka yang nyaman dikaribi adalah orang-orang yang tampil apa adanya. Mereka tak menyembunyikan sesuatu. Mereka bisa diduga. Mereka gampang didekati sebab orang tahu tanggapan apa yang akan didapat ketika sesuatu disampaikan. Mereka menyeimbangkan prinsip ini dengan kepekaannya kepada perasaan mereka. Mereka tumbuh menjadi orang jujur tanpa menyakiti. Mereka bisa bicara terbuka tanpa melukai. Mereka menambah intensitas kebersamaan dengan sesama. Mereka bukannya menjauhi tetapi malah mendatangi dan menerima sesamanya. Mereka tidak akan memutus tali silaturahmi. Dan ini banyak terjadi pada kita.
(Salim A. Fillah)
HINDARI PENULISAN ASS, ASSKUM, MOHD, MOSQUE, 4JJI, MECCA !!
Bagi akhy wa Ukhty yang masih suka menggunakan kata ...
''Ass,Askum ''dalam ucapan salam.
''Mohd'' untuk panggilan nama Nabi MUhammad.
''Mosque'' untuk panggilan sebuah masjid.
''4JJI'' untuk panggilan Allah SWT.
''Mecca'' untuk sebutan Mekah.
Gunakan sesuai dengan aturannya yuuuk...
Karena arti dari kata tersebut adalah
Bismillah..
Jika kita seorang Muslim atau Muslimah, alangkah baiknya mengindahkan hal yang mungkin kita anggap kecil tapi besar makna dan pengaruhnya.
*janganlah bilang Mosque tapi Masjid,karena Organisasi islam menemukan bahwa Mosque adalah nyamuk.
*jangan menulis MECCA tapi MEKAH,karena MECCA adalah rumah anggur/bir.
*jangan menulis MOhd tapi Muhammad,karena Mohd,. Adalah anjing bermulut besar.
*jangan menulis 4JJI tapi Allah SWT,karena 4JJI aRtinya for judas Jesus Isa al masih.
*jangan menulis Ass atau Askum dalam salam tetapi Assalammu'alaikum (karena salam adalah doa,atau jika tidak sempat lebih baik tidak sama sekali),karena Ass artinya (maaf) pantat mu, dan Askum artinya celakalah kamu.
INGAT !!!
ASS = (maaf) PANTATMU
ASKUM = CELAKALAH KAMU
Maka sampaikanlah salam karena itu DOA, minimal Assalamu'alaikum
Semoga bermanfaat
Selasa, 08 November 2011
ALLAH MENCUKUPI ORANG YANG BERTAWAKAL
Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepada-Nya tempat bergantung. Insya Allah kita akan membicarakan hal ini melalui tiga hal:
Pertama, yang dimaksud bertawakkal kepada Allah.
Kedua, dalil syar'i bahwa bertawakkal kepada Allah termasuk diantara kunci-kunci rizki.
Ketiga, apakah tawakkal itu berarti meninggalkan usaha ?
Pertama, Yang Dimaksud Bertawakkal kepada Allah
Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal. Diantaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata : "Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata". (Ihya' Ulumid Din, 4/259)
Al-Allamah Al-Manawi berkata : "Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali". (Faidhul Qadir, 5/311)
Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali
Al-Qari berkata:
"Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah". (Murqatul Mafatih, 9/156)
Kedua, Dalil Syar'i Bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki
Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha'i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang".
1) Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki. Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah berfirman.
"Artinya : Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (Ath-Thalaq : 3)
Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi' bin Khutsaim mengatakan : "(Mencukupkan) dari setiap yang membuat sempit manusia". (Syarhus Sunnah, 14/298)
Ketiga, Apakah Tawakkal Itu Berarti Meninggalkan Usaha?
Sebagian orang mungkin ada yang berkata : "Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit ?"
Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepadaNya tempat bergantung. Dan sungguh para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata : "Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut". (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/8)
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, 'Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri'. Maka beliau berkata, 'Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku".
Dan beliau bersabda.
"Artinya : Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang".
Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki.
Selanjutnya Imam Ahmad berkata, 'Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita'. (Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306)
Syaikh Abu Hamid berkata : "Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari'at. Sedangkan sya'riat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula ?"
Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, 'Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya'.
Imam Abul Qasim Al-Qusyairi : "Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah maka hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdirNya, dan terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya". (Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157)
Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja'far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :
"Artinya : Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ikatlah kemudian bertawakkallah".
2) Dan dalam riwayat Imam Al-Qudha'i disebutkan.
"Artinya : Amr bin Umayah Radhiyallahu 'anhu berkata, 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dahulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? 'Beliau menjawab, 'Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah". (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368)
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.
Footnote :
1. Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304; Jami'ut Tirmidzi, Kitabuz Zuhud, Bab Fit Tawakkal 'Alallah, no. 2344, no 2447, 7/7 dan lafazh ini adalah miliknya; Sunan Ibni Majah, Abwabuz Zuhd, At-Tawakkul wal Yaqin, no 4216, 2/419; Kitabuz Zuhd oleh Ibnu Al-Mubarak, juz IV, Bab At-Tawakkul wat Tawaddhu' no. 559, hal 196-197; Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa'iq, Bab Al-Wara' wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar 'amma Yajibu 'alal Mar'i min Qath'il Qulubi 'anil Khala'iqi bi Jami'il Ala'iqi fi Ahwalihi wa Asbabihi no. 730, 2/509; Al-Mustadzrak 'ala Ash-Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/318; Musnad Asy-Syihab, Lau Annakum Tatawakkaluna ala' Allah Haqqa Tawakkulihi no. 1444, 2/319; Syarhus Sunnah oleh Al-Baghawi, Kitabur Riqaa, Bab At-Tawakkul 'ala Allah 'Aza wa Jalla no. 4108, 14/301. Imam At-Tirmidzi berkata, Ini adalah hadits shahih, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini (Jami'ut Tirmidzi, 7/8). Imam Al-Hakim berkata, Ini adalah hadits dengan sanad shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim (Al-Mustadrak 'ala Ash-Shahihain, 4/318). Imam Al-Baghawi berkata, Ini adalah hadist hasan. (Syarhus Sunnah, 14/301). Dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir. (Lihat, Hamisyul Musnad, 1/234). Serta Syaikh Al-Albani menshahihkannya, (Lihat, Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no. 310, jilid 1, juz III/12).
2. Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa'iq, Bab Al-Warra' wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar bin Annal Mar'a Yajibu Alaihi Ma'a Tawakkulil Qalbi Al-Ihtiraz bil A'dha Dhidda Qauli Man Karihahu, no. 731, 2/510, dan lafazh ini miliknya; Al-Mustadrak Alash Shahihain, Kitab Ma'rifatish Shahabah, Dzikru Amr bin Umayah Radhiyallahu 'anhu, 3/623. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata, Sanad hadist ini 'jayyid'. (At-Talkhis, 3/623). Al-hafizh Al-Haitsami juga menyatakan hal senada dalam Ajmau'z Zawa'id wa Manba'ul Fawa'id, 10/303. Beliau berkata, Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari banyak jalan. Dan para pembawa haditsnya adalah pembawa hadits Shahih Muslim selain Ya'kub bin Abdullah bin Amr bin Umayah Adh-Dhamari, dan dia adalah tsiqah (terpercaya). (Op. cit, 10/303)
Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau'il Kitab was Sunnah oleh Syaikh Dr Fadhl Ilahi, dengan edisi Indonesia Kunci-kunci Rizki Menurut Al-Qur'an dan As-Sunah hal. 28-35 terbitan Darul Haq, Penerjemah Ainul Haris Arifin Lc
Pertama, yang dimaksud bertawakkal kepada Allah.
Kedua, dalil syar'i bahwa bertawakkal kepada Allah termasuk diantara kunci-kunci rizki.
Ketiga, apakah tawakkal itu berarti meninggalkan usaha ?
Pertama, Yang Dimaksud Bertawakkal kepada Allah
Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal. Diantaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata : "Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata". (Ihya' Ulumid Din, 4/259)
Al-Allamah Al-Manawi berkata : "Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali". (Faidhul Qadir, 5/311)
Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali
Al-Qari berkata:
"Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah". (Murqatul Mafatih, 9/156)
Kedua, Dalil Syar'i Bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki
Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha'i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang".
1) Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki. Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah berfirman.
"Artinya : Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (Ath-Thalaq : 3)
Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi' bin Khutsaim mengatakan : "(Mencukupkan) dari setiap yang membuat sempit manusia". (Syarhus Sunnah, 14/298)
Ketiga, Apakah Tawakkal Itu Berarti Meninggalkan Usaha?
Sebagian orang mungkin ada yang berkata : "Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit ?"
Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepadaNya tempat bergantung. Dan sungguh para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata : "Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut". (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/8)
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, 'Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri'. Maka beliau berkata, 'Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku".
Dan beliau bersabda.
"Artinya : Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang".
Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki.
Selanjutnya Imam Ahmad berkata, 'Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita'. (Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306)
Syaikh Abu Hamid berkata : "Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari'at. Sedangkan sya'riat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula ?"
Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, 'Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya'.
Imam Abul Qasim Al-Qusyairi : "Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah maka hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdirNya, dan terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya". (Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157)
Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja'far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :
"Artinya : Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ikatlah kemudian bertawakkallah".
2) Dan dalam riwayat Imam Al-Qudha'i disebutkan.
"Artinya : Amr bin Umayah Radhiyallahu 'anhu berkata, 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dahulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? 'Beliau menjawab, 'Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah". (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368)
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.
Footnote :
1. Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304; Jami'ut Tirmidzi, Kitabuz Zuhud, Bab Fit Tawakkal 'Alallah, no. 2344, no 2447, 7/7 dan lafazh ini adalah miliknya; Sunan Ibni Majah, Abwabuz Zuhd, At-Tawakkul wal Yaqin, no 4216, 2/419; Kitabuz Zuhd oleh Ibnu Al-Mubarak, juz IV, Bab At-Tawakkul wat Tawaddhu' no. 559, hal 196-197; Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa'iq, Bab Al-Wara' wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar 'amma Yajibu 'alal Mar'i min Qath'il Qulubi 'anil Khala'iqi bi Jami'il Ala'iqi fi Ahwalihi wa Asbabihi no. 730, 2/509; Al-Mustadzrak 'ala Ash-Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/318; Musnad Asy-Syihab, Lau Annakum Tatawakkaluna ala' Allah Haqqa Tawakkulihi no. 1444, 2/319; Syarhus Sunnah oleh Al-Baghawi, Kitabur Riqaa, Bab At-Tawakkul 'ala Allah 'Aza wa Jalla no. 4108, 14/301. Imam At-Tirmidzi berkata, Ini adalah hadits shahih, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini (Jami'ut Tirmidzi, 7/8). Imam Al-Hakim berkata, Ini adalah hadits dengan sanad shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim (Al-Mustadrak 'ala Ash-Shahihain, 4/318). Imam Al-Baghawi berkata, Ini adalah hadist hasan. (Syarhus Sunnah, 14/301). Dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir. (Lihat, Hamisyul Musnad, 1/234). Serta Syaikh Al-Albani menshahihkannya, (Lihat, Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no. 310, jilid 1, juz III/12).
2. Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa'iq, Bab Al-Warra' wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar bin Annal Mar'a Yajibu Alaihi Ma'a Tawakkulil Qalbi Al-Ihtiraz bil A'dha Dhidda Qauli Man Karihahu, no. 731, 2/510, dan lafazh ini miliknya; Al-Mustadrak Alash Shahihain, Kitab Ma'rifatish Shahabah, Dzikru Amr bin Umayah Radhiyallahu 'anhu, 3/623. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata, Sanad hadist ini 'jayyid'. (At-Talkhis, 3/623). Al-hafizh Al-Haitsami juga menyatakan hal senada dalam Ajmau'z Zawa'id wa Manba'ul Fawa'id, 10/303. Beliau berkata, Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari banyak jalan. Dan para pembawa haditsnya adalah pembawa hadits Shahih Muslim selain Ya'kub bin Abdullah bin Amr bin Umayah Adh-Dhamari, dan dia adalah tsiqah (terpercaya). (Op. cit, 10/303)
Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau'il Kitab was Sunnah oleh Syaikh Dr Fadhl Ilahi, dengan edisi Indonesia Kunci-kunci Rizki Menurut Al-Qur'an dan As-Sunah hal. 28-35 terbitan Darul Haq, Penerjemah Ainul Haris Arifin Lc
Sabtu, 16 April 2011
GOLONGAN ORANG YANG MENGINGAT KEMATIAN
Manusia di dunia ini tidak ada yang sama. Setiap orang memiliki perbedaan. Demikian pula dalam mengingat kematian. Tidak semua manusia di dunia ini ingat kepada kematian. Hanya orang-orang yang memiliki ketakwaan dan percaya akan kuasa Allah yang mengerti apa yang akan terjadi pada dirinya sesuai yang digariskan oleh Allah. Namun, lebih banyak lagi golongan manusia yang tidak ingat dan mengerti tentang kematian. Mari kita selidiki golongan-golongan ini.\
Dalam mengingat kematian, kita membagi manusia menjadi tiga golongan:
1. Golongan orang yang tidak mengingat kematian
Golongan orang yang seperti ini adalah golongan orang yang tidak peduli dengan kematian. Menurut mereka, kehidupan di dunia ini kekal. Tidak ada yang dapat menghentikan mereka untuk berbuat apa pun. Mereka telah dibutakan oleh kesenangan duniawi.
Golongan seperti ini tidak menyadari bahwa akan ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Mereka tidak sadar bahwa segala perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia akan diperhitungkan kelak. Apabila pada akhirya mereka mengingat kematian, mereka bersedih karena akan meninggalkan harta dan kemewahan yang selama ini mereka puja. Oeh karena itu, mereka semakin tidak menyukai kematian, bahkan ada yang membencinya. Hal ini sudah pasti akan membuat mereka semakin jauh dari Allah swt.
Ada juga golongan manusia yang tidak mengingat kematian bukan karena mereka tidak mengetahui hakikat kematian. Akan tetapi, mereka berpikir bahwa kematian hanyalah proses yang harus mereka jalani. Proses ini dimulai dari ketika mereka dilahirkan hingga mereka tua dan akhirnya mati. Mereka berpikr bahwa kematian akan datang di usia tua. Ketika tubuh mereka sudah tidak mampu lagi menjalani kehidupan di dunia ini karena tubuh mereka mengalami penurunan kemampuan hidup. Mereka tidak percaya akan kekuasaan Allah yang dapat mengambil mereka kapan saja Allah kehendaki. Dari sikap tersebut, mereka akhirnya juga tidak percaya mengenai adanya kehiidupan setelah kemtian. Mereka tidak berpikir akan adanya hari pembalasan. Dalam benak mereka, apa yang mereka lakuakan selama di dunia hanya akan mereka terima selama di dunia saja. Jadi, mereka akan berusaha agar kehidupan mereka selamz di dunia berlimpah dengan kekayaan dan kepuasaan.
2. GOLONGAN ORANG YANG BERTOBAT
Golongan kedua ini adalah golongan orang yang dulu pernah melakukan banyak maksiat, tetapi bertobat. Hal ini karena mereka menyadari bahwa kuasa Allah swt. sangatlah besar. Jika Allah telah berkehendak, tidak ada manuisa yang dapat menghindarinya. Mereka sadar bahwa selama ini telah lalai dan meninggalkan ajaran-ajaran Allah swt. Sementara itu mereka tidak tahu, kapan mereka akan kembai pada Allah swt. padahal dosa yang mereka lakukan sangat banyak. Oleh karena itu, mereka bertobat dan memohon kepada ampunan kepada Allah swt. jadi ketika malaikat mau menjemput, mereka telah siap.
Dengan mengingat kematianakan timbul ketakutan dalam diri sehingga tidak akan mengulangi perbuatan yang sama dan mendorong untuk semakin banyak untuk semakin memperbanyak ibadah. Begitu besar harapan Allah swt. akan berkenan menerima tobat yang mereka lakukan.
Oleh karena itu, mereka kemudian membaktikan hidupnya hanya untuk Allah. Mereka berubah menjadi pribadi baru yang semakin mencintai Allah. Mereka akan berusaha enambah ibadah yang mereka lakukan. Mereka akan berlomba-lomba mencai ridho Allah swt. waktu yang tersisa mereka gunakanuntuk mengumpulkan pahala-pahala yang kiranya dapat menghapus dosa-dosa dari kesalahan yang pernah mereka perbuat dahulu.
3. GOLONGAN ORANG YANG SENANTIASA MENYADARI AKAN DATANGNYA KEMATIAN
Golongan yang terakhir ini adalah golongan orang yang mengetahui dan memahami apa hakikat kematian. Mereka tidak takut akan datangnya kematian. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah cipaan Allah swt. dan segala sesuatu akan kembali kepada pemiliknya. Rasa cinta mereka yang dalam terhadap Allah swt. membuat mereka menanti kematian. Perasaan menanti tersebut seperti halnya perasaan menanti akan datangnya sang kekasih hati.
Kematian merupakan saat yamg membahagiakan karena mereka akan bertemu dengan Allah swt. yang sangat mereka kasihi. Golongan orang-orang seperti ini benar-benar mengisi hidupnya dengan selalu bertakwa kepada Allah swt.
Bagi beberapa orang, golongan orang yang seperti ini akan dianggap aneh. Hal ini karena mereka benar-benar seperti melupakan kehidupan dunia. Golongan ini telah mematikan hati dan jiwanya untukkehidupan di luar selain Allah swt. kenikmatan dan kemewahan duniawi tidak lagi menggoda mereka. Hanya ada Allah semata yang ,merasuk di dalam jiwa mereka. Semua yang mereka lakukan adalah apa yang memang dikehendaki oleh Allah. Mereka melebur diri ke dalam nikmat-Nya beribadah kepada Allah. Semua itu mereka lakukan karena rasa cinta yang teramat dalam kepada pencipta-Nya.
Dalam mengingat kematian, kita membagi manusia menjadi tiga golongan:
1. Golongan orang yang tidak mengingat kematian
Golongan orang yang seperti ini adalah golongan orang yang tidak peduli dengan kematian. Menurut mereka, kehidupan di dunia ini kekal. Tidak ada yang dapat menghentikan mereka untuk berbuat apa pun. Mereka telah dibutakan oleh kesenangan duniawi.
Golongan seperti ini tidak menyadari bahwa akan ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Mereka tidak sadar bahwa segala perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia akan diperhitungkan kelak. Apabila pada akhirya mereka mengingat kematian, mereka bersedih karena akan meninggalkan harta dan kemewahan yang selama ini mereka puja. Oeh karena itu, mereka semakin tidak menyukai kematian, bahkan ada yang membencinya. Hal ini sudah pasti akan membuat mereka semakin jauh dari Allah swt.
Ada juga golongan manusia yang tidak mengingat kematian bukan karena mereka tidak mengetahui hakikat kematian. Akan tetapi, mereka berpikir bahwa kematian hanyalah proses yang harus mereka jalani. Proses ini dimulai dari ketika mereka dilahirkan hingga mereka tua dan akhirnya mati. Mereka berpikr bahwa kematian akan datang di usia tua. Ketika tubuh mereka sudah tidak mampu lagi menjalani kehidupan di dunia ini karena tubuh mereka mengalami penurunan kemampuan hidup. Mereka tidak percaya akan kekuasaan Allah yang dapat mengambil mereka kapan saja Allah kehendaki. Dari sikap tersebut, mereka akhirnya juga tidak percaya mengenai adanya kehiidupan setelah kemtian. Mereka tidak berpikir akan adanya hari pembalasan. Dalam benak mereka, apa yang mereka lakuakan selama di dunia hanya akan mereka terima selama di dunia saja. Jadi, mereka akan berusaha agar kehidupan mereka selamz di dunia berlimpah dengan kekayaan dan kepuasaan.
2. GOLONGAN ORANG YANG BERTOBAT
Golongan kedua ini adalah golongan orang yang dulu pernah melakukan banyak maksiat, tetapi bertobat. Hal ini karena mereka menyadari bahwa kuasa Allah swt. sangatlah besar. Jika Allah telah berkehendak, tidak ada manuisa yang dapat menghindarinya. Mereka sadar bahwa selama ini telah lalai dan meninggalkan ajaran-ajaran Allah swt. Sementara itu mereka tidak tahu, kapan mereka akan kembai pada Allah swt. padahal dosa yang mereka lakukan sangat banyak. Oleh karena itu, mereka bertobat dan memohon kepada ampunan kepada Allah swt. jadi ketika malaikat mau menjemput, mereka telah siap.
Dengan mengingat kematianakan timbul ketakutan dalam diri sehingga tidak akan mengulangi perbuatan yang sama dan mendorong untuk semakin banyak untuk semakin memperbanyak ibadah. Begitu besar harapan Allah swt. akan berkenan menerima tobat yang mereka lakukan.
Oleh karena itu, mereka kemudian membaktikan hidupnya hanya untuk Allah. Mereka berubah menjadi pribadi baru yang semakin mencintai Allah. Mereka akan berusaha enambah ibadah yang mereka lakukan. Mereka akan berlomba-lomba mencai ridho Allah swt. waktu yang tersisa mereka gunakanuntuk mengumpulkan pahala-pahala yang kiranya dapat menghapus dosa-dosa dari kesalahan yang pernah mereka perbuat dahulu.
3. GOLONGAN ORANG YANG SENANTIASA MENYADARI AKAN DATANGNYA KEMATIAN
Golongan yang terakhir ini adalah golongan orang yang mengetahui dan memahami apa hakikat kematian. Mereka tidak takut akan datangnya kematian. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah cipaan Allah swt. dan segala sesuatu akan kembali kepada pemiliknya. Rasa cinta mereka yang dalam terhadap Allah swt. membuat mereka menanti kematian. Perasaan menanti tersebut seperti halnya perasaan menanti akan datangnya sang kekasih hati.
Kematian merupakan saat yamg membahagiakan karena mereka akan bertemu dengan Allah swt. yang sangat mereka kasihi. Golongan orang-orang seperti ini benar-benar mengisi hidupnya dengan selalu bertakwa kepada Allah swt.
Bagi beberapa orang, golongan orang yang seperti ini akan dianggap aneh. Hal ini karena mereka benar-benar seperti melupakan kehidupan dunia. Golongan ini telah mematikan hati dan jiwanya untukkehidupan di luar selain Allah swt. kenikmatan dan kemewahan duniawi tidak lagi menggoda mereka. Hanya ada Allah semata yang ,merasuk di dalam jiwa mereka. Semua yang mereka lakukan adalah apa yang memang dikehendaki oleh Allah. Mereka melebur diri ke dalam nikmat-Nya beribadah kepada Allah. Semua itu mereka lakukan karena rasa cinta yang teramat dalam kepada pencipta-Nya.
Langganan:
Komentar (Atom)